Kesempatan itu akan Hadir (Lagi)

opportunityDuduk hampir tengah malam, sambil melihat anak-anak tidur. Suasana malam ini membuat saya ingin bernostalgia, menghayati momen-momen sebelas tahun lalu.

Sebelas tahun lalu saya  ber ta’aruf dengan seorang pria yang tidak pernah saya temui sebelumnya. Kala itu saya dan dirinya hanya bertukar tulisan.

Tulisan saya cukup panjang, dan beberapa bagian dari tulisan itu masih saya ingat dengan baik. Karena saya serius menulisnya. Saya menuliskan empat poin misi hidup di dalamnya.

Alhamdulillah kemudian kami menikah, dan menjalani rumah tangga hingga kini.

Ketika saya menuliskan misi itu sebelas tahun lalu, sebenarnya tidak ada langkah pasti bagaimana mencapainya. Saya hanya ingin…itu saja.

Nyatanya di awal pernikahan, episode-episode di dalamnya membuat langkah mencapai misi sering terkendala.  Banyak kesempatan yang dilewati karena kalau saya paksakan akan membuat saya tidak nyaman karena meninggalkan tanggungjawab sebagai istri dan ibu. Sering merasa ingin sekali mengambil kesempatan itu, tetapi lagi-lagi urung. Sedih juga, merasa tertinggal, dan gelap.

Tetapi kini di usia hampir ke sebelas pernikahan, jika ini adalah sebuah anak tangga, ternyata saya berdiri di posisi yang dulu saya impikan.  Misi yang saya tuliskan dalam proposal pra nikah itu, mulai tercapai. Continue reading

Advertisements

Kekuatan Istri itu Ikhlas

Dulu, sebelum menikah…saya pernah menulis untuk diri sendiri (karena belum ada blog or fb waktu itu), bahwa yang akan membuat survive seorang istri dalam pernikahan itu adalah keikhlasan.

Kenapa ya waktu itu saya membuat tulisan itu? Hmm karena saya sangat mengenal diri saya dan mungkin wanita-wanita yang saya kenali, adalah sosok yang haus apresiasi.

Diapresiasi dipersepsikan sebagai disayang, dicintai, diperhatikan, dimanja. Apresiasi wanita, maka ia akan takluk pada pria…setuju?

Sementara pria bisa jadi apresiasinya kurang, daya empati kurang, atau tidak memahami apresiasi seperti apa yang diperlukan, dalam bentuk apa begitu. Karena bisa jadi hal yang penting menurut wanita, tidak penting untuk pria, demikian sebaliknya, sehingga saat ada yang menurut wanita berharga, dipandang biasa saja oleh pria.  Kalau diibaratkan puzzle, ini adalah keping yang tidak klop, menurut saya.

Yang akan membuat klopnya adalah komunikasi. Namun saya pikir sehebat-hebatnya komunikasi. Dengan perbedaan struktur otak pria dan wanita, maka wajarlah jika sekali sekali perbedaan itu menguat.

Beberapa kali inbox dari teman-teman, mengingatkan saya akan tulisan zaman dulu itu. Ya…wanita yang perlu apresiasi untuk bahagia. Tetapi sayangnya berbentur dengan pria berego kuat yang sulit memberikan apresiasi

Solusinya adalah ikhlas. Apa itu ikhlas? Rasanya kita sudah sering belajar di sekolah mata pelajaran agama. Tetapi ternyata bab ini adalah bab yang tidak boleh luput untuk didengar. Kajiannya begitu dalam, nutrisi spiritual  untuk otak dan hati kita. Pemaparan tentang apa itu ikhlas tentu bukan sayalah yang bisa menuliskannya. Silakan download di www.kajian.net. Ikhlas itu bagian terberat memang, menarik mendengar salah satu kajian di sana tentang ikhlas. Tentang perjuangan para ulama salaf untuk ikhlas. Sungguh ketika mendengar kajian itu hati ini lebih tenang.

Ketika ikhlas, pikiran kita terikatnya pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Apresiasi hanya mengharap dari Allah saja. Ngga peduli kalau suami mau jungkir balik mencuekkan perjalanan perjuangan kita. Kapan saya bisa begitu? Hmm akan berjuang sampai akhir….sedikit ditegur saja kadang hati terluka dalam, mengingat perjuangan yang sudah dilakukan lalu sibuk bertanya dalam hati, dan merasa tidak layak ditegur.  Padahal dalam kondisi demikian, kemana keikhlasan itu ya?

Saya sering emosional berat ketika mendengar istri yang diperlakukan seenaknya, sambil berpikir…haduh kalau saja suaminya tahu bagaimana rasanya hamil, melahirkan dan menyusui, ngga akan tega mereka memperlakukan demikian. Tetapi bagaimana caranya mereka tahu? Malah capek berpikir seperti itu.

Hilang pahala karena kita mengharap sentuhan apresiasi dari suami. Rugi! Sementara hidup hanya sekejap maa. Bahkan kurang dari kejapan mata.

Mendo’akan agar kita semua memiliki kekuatan untuk belajar ikhlas. Itu saja akhirnya yang dilakukan. Semoga semua daya juang tidak terhapus karena kekurangsabaran dalam menata keikhlasan ini.

Ilmu yang Membahagiakan

Matanya sembab, menerawang ke langit. Lelah jiwanya, karena terus menerus hanyut dalam persoalan rumah tangganya.

“Kamu boros sekali, abang becak aja cukup dengan uang sepuluh ribu sehari…”

Ia pun menggeleng lemah, tak mengerti, mengapa ucapan itu ada hadir dalam kehidupannya. Suaminya adalah sosok berkecukupan kalaulah tidak dikatakan kaya. Memiliki karir cemerlang dengan salary yang lebih dari cukup, semestinya. Tetapi mengapa ia sebagai istri tidak memiliki keluasan materi. Setiap bulan harus meminta nafkah, memohon untuk diberi nafkah yang cukup. Yang ia tahu bahwa hal tersebut hanya sepersekian persen dari harta suaminya.

Anak-anaknya yang masih balita hampir mengamuk setiap hari. Mengamuk habis-habisan, dan ia tidak berdaya untuk mengasuh mereka. Karena kegalauan yang terus melanda dirinya. Ia lebih banyak menangis, menangisi kehidupannya, dan berteriak karena kegalauan dalam hatinya. Seorang wanita yang bersedih biasanya menginginkan tempat yang sepi. Suara-suara anak yang semestinya menyejukkan malah dirasakan sebaliknya, mengganggu ketenangan.

Saya hanya menarik nafas panjang. Percakapan yang berawal dari pertanyaan sang ibu tentang bagaimana cara mengasuh anaknya yang sering mengamuk dan merusak. Berujung pada kisah yang cukup lazim saya dengar. Ketidakbahagiaan seorang ibu!

Dari persoalan yang diuraikan, saya cukup tergelitik oleh secuplik cerita ibu tersebut. Bahwa suaminya meminta ia berhemat layaknya abang becak berpenghasilan sepuluh ribu. Ini mungin hiperbola dari kemarahan. Namun sehiperbola-hiperbolanya rasanya geli mendengar pernyataannya. Mengapa sang suami begitu perhitungan dalam memberikan nafkah kepada istrinya sendiri. Sampai istri hampir setiap hari bingung mau masak apa, karena uangnya tidak ada, dan hal sederhana ini menjadi pemicu stress istri sepanjang hari. Seandainya ia adalah istri dari suami yang memang kekurangan. Mungkin ini tidak perlu diurai menjadi sebuah permasalahan. Namun ketika kondisinya adalah sebaliknya, maka mengalirlah menjadi permasalahan yang menyesakkan.

Lalu sedikit berdiskusi pada suami. Saya ingin menelusuri pola pikir seorang pria. Barangkali sebagai pria, suami mahami pola pikir tersebut. Lalu suami berkata “semestinya tidak begitu, seandainya dia tahu bahwa sedekah yang utama adalah pada keluarganya”

Benar saya setju. Lalu saya pun melanjutkannya dengan browsing, dan menemukan hadits ini.

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: Rasulullah SAW, bersabda: “Satu dinar yang kamu nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang kamu nafkahkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang kamu berikan kepada orang miskin dan satu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu, maka yang paling besar pahalanya yaitu satu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu.” (HR Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga)

—-

Saya bukan seorang ahli agama. Saya tidak mampu mengupas sebuah hadits. Hanya ingin berujar, “Ya benar, andai dalam menjalani rumah tangga kita mau belajar dengan benar. Menimba ilmu terus menerus pada ahlinya, seorang ustadz yang dalam keilmuannya. Sebenarnya ambiguitas pemikiran tidak perlu terjadi”. .

Masih banyak bab lain yang mengungkapkan bagaimana cara menjadi suami yang memuliakan istri, dan seandainya ilmu tersebut diaplikasikan dalam kehidupan rumah tangga, niscaya istri akan bahagia. Selanjutnya, setiap langkah suami untuk berupaya memuliakan itu tidak akan luput dari pahala yang melimpah, mengalir. Karena saat istri yang merupakan ibu dari anak-anaknya itu bahagia. Maka ia akan mengasuh anak-anaknya dengan pancaran kebahagiaan. Hal inilah yang akan membuka pintu pada kemudahan pengasuhan.

Persoalan demi persoalan dalam rumah tangga semestinya diiringi dengan penambahan ilmu. Karena dengan ilmulah kita bisa berpikir dengan jernih.

Miris ketika masa mahasiswa, sebelum menikah, giat mencari ilmu. Setelah menikah, seakan sudah lulus, dan berhenti mencari ilmu. Padahal ilmu kehidupan semestinya tidak berakhir untuk dicari. Baik oleh suami maupun istri.

  • Hadirilah majelis ilmu bersama-sama, ini akan memperkuat ikatan kita dengan pasangan
  • Pilihlah narasumber yang dalam ilmunya, supaya memperoleh mindset yang benar.
  • Diskusikan hasil belajar dari majelis ilmu, buku atau artikel dengan pasangan, agar memiliki mind set yang sama. Karena persoalan perlu diselesaikan sama-sama dan perlu mind set yang hampir sama, supaya tidak konflik
  • Jika tak cukup waktu untuk berdiskusi, tulislah, untuk mengikat makna dan sebagai tabungan ilmu jika suatu saat memerlukannya.

Ilmu itu menentramkan. Ilmu itu membahagiakan. Terus belajar….dan terus belajar…adalah ikhtiar kami untuk mencapai kebahagiaan berkeluarga. Bagaimana dengan teman-teman?

Apa yang Dicari? Berkah atau Melimpah?

Di usia produktif seperti sekarang. Topik finansial tentu kerap hinggap dalam pikiran kita. Apa yang bisa dilakukan agar pendapatan bisa bertambah dan bertambah lagi. Secara pengeluaran dah pasti semakin bertambah lah ya 🙂

Pernahkah teman-teman merasa risau, dan ingin mendapatkan pendapatan yang lebih dan lebih lagi? Ingin bertambah dan bertambah lagi sih wajar ya, tapi kalau sampai risau dan galau? Nah saya sendiri tidak suka tuh kalau sampai risau dan galau dalam arti jadi jatuhnya keluh kesah dan tidak bahagia,

Kalau sudah mulai galau, biasanya saya merenung sebenarnya apa yang saya cari melimpah atau berkah?

Berkah itu Bahagia

Secara ilmu bahasa berkah berarti berkembang, bertambah dan kebahagiaan. Demikian pula Al Qur’an dan As-Sunnah memberikan gambaran tentang berkah, tidak berbeda jauh dengan makna bahasa tersebut.

Hidup bahagia dengan rizki yang sudah Allah limpahkan, tidak perlu menunggu melimpahnya harta. Bahagia bisa diciptakan mulai dari hari ini. Bahagia diawali dengan sikap bersyukur. Bersyukur atas segala nikmat yang tidak terhitung jumahnya. Terus menerus memikirkan hal yang belum ada pada kita, yang kemudian merasa tidak bahagia, menjadi persoalan tersendiri.

Berkah Itu Kemudahan

Ulama tafsir menjelaskan bahwa dulu wanita kaum Saba’ tidak perlu memanen buah kebun mereka. Untuk mengambil hasil kebun, cukup mereka melintas dengan keranjang di kepala mereka. Maka buah-buahan yang jatuh karena masak, sudah cukup memenuhi keranjang mereka, tanpa bersusah payah memetik atau mendatangkan pekerja untuk memanennya.

Sebagian ulama lain menjelaskan bahwa dulu di negeri Saba’ tidak ada lalat, nyamuk, kutu atau serangga berkat udara yang bagus, cuaca yang bersih dan kerahmatan Allah yang meliputinya.

Berkah Itu Cukup

Sedikit tapi cukup, lebih baik daripada banyak tetapi selalu dirasa kurang.

Ibnu Qoyyim berkata ” tidaklah kelapangan rizki dan amalan diukur dari jumlahnya yang banyak, tidaklah panjang umur dilihat dari bulan dan tahunnya yang berjumlah banyak. Akan tetapi kelapangan rizki dan umur dilihat dari keberkahannya.”

Hidup berkah ketika rasa bahagia itu menggelayuti jiwa dan pikiran kita, urusan menjadi dimudahkan dan rizki selalu dirasa cukup, lebih menjadi harapan saya daripada sekedar melimpah.

Bagaimana dengan teman-teman? Apa harapan yang ada saat ini?

Semangat pagi! Selamat beraktivitas. Semoga berkah hari ini. Aamiin

Sumber:

Buku 12 Kiat Ngalap Berkah. Penulis: Dr. Muhammad Arifin bin Badri, MA

Menjadi Bermanfaat Tak Perlu Menunggu Esok

Selalu kagum melihat perjuangan setiap insan, yang memberikan manfaat baik skala kecil maupun besar dalam lingkungannya. Seperti yang pernah saya simak baik dalam tayangan televisi maupun media lainnya. Di tayangan Kick Andy beberapa minggu lalu, saat bertemakan sekolah dan guru. Saya melihat bagaimana mereka, para insan yang dengan kesederhanaannya tetap mengoptimalkan potensin, sehingga pada akhirnya  menebar manfaat, bahkan berperan besar dalam dunia pendidikan.

Mereka BISA, lalu bagaimana dengan kita (saya)?

Ya bagaimana dengan saya, seorang ibu rumah tangga. Bisakah ada manfaat yang tersebar dari diri saya. Ketika berpikir demikian, maka yang saya lakukan adalah menelusuri potensi diri. Setiap insan tercipta dengan segenap potensinya. Yakin bahwa diri ini memiliki potensi yang bisa jadi lebih dari apa yang kita kira. Untuk menemukannya perlu ditelusuri satu persatu dan dicoba untuk ditampilkan ke permukaan. Karena potensi adalah di dalam, tidak akan tampak jika tidak diasah dan ditampakkan.

Menyimak bagaimana sahabat menebar manfaat dari hal-hal yang mungkin bagi mereka adalah sederhana. Seperti mengupload foto masakan beserta resepnya. Sungguh foto-foto itu sangat menggembirakan bagi saya karena mendapat tebaran ilmu untuk dapur kecil saya. Darimana saya bisa mempertahankan selera makan keluarga saat ini kalau tidak dari blog resep dan posting sahabat-sahabat saya di facebook.

Saya yang berbekal skill minimalis dalam berumahtangga banyak belajar dari sahabat-sahabat yang berkenan berbagi ilmunya baik tentang masakan, menata rumah, mengasuh anak, merawat anak, dan lain sebagainya.

Hal yang mungkin dianggap sederhana oleh para sahabat blogger itu, bisa jadi menjadi bekal para ibu seperti saya untuk menjalankan perannya dengan asyik dan optimal.

Belajar dari sana, maka saya telusuri potensi dan berusaha untuk memanfaatkan potensi itu paling tidak dalam skala terkecil tetapi utama, yaitu keluarga.

1. Potensi waktu luang. Sebagai ibu rumah tangga saya memiliki kebebasan waktu untuk mengatur aktivitas. Kapan mau beraktivitas, kapan mau beristirahat, kapan mau memasak, kapan mau menulis. Maka sesuatu yang disayangkan jika saya melepas potensi ini.

2. Potensi bisa memasak. Masakan saya tentu saja masih jauh dari standar seharusnya, tetapi ketika melihat suami dan anak bahagia. Apalagi yang perlu saya pikirkan? Jika saya melakukannya dengan senang hati, paling tidak saya bisa bermanfaat bagi anggota keluarga untuk mencicipi hidangan sehat tanpa pengawet dan msg. Hal yang masih langka ada di luar rumah sana, bukan?

3. Potensi bisa menulis. Setiap insan yang pernah sekolah, saya yakin ia bisa menulis. Bagaimana tidak? Hampir semua aktivitas sekolah kita dilakui dengan menulis. Indonesia gitu loh sangat paper and pencil heuheu. Jadi ini adalah potensi yang bisa saya asah dan saya manfaatkan. Menulis paling tidak bermanfaat bagi keluarga, karena dengan menulis saya menampung kata-kata yang tidak perlu saya ucapkan pada keluarga. Bayangkanlah kalau hal yang saya tulis ini saya paparkan pada anak saya. Tentu mereka akan kebingungan. “Lagi bicara apa sih ibu teh?” Begitu mungkin:))

Baru tiga potensi. Potensi lain masih saya telusuri. Saya berharap masih banyak potensi yang bisa saya temukan, sehingga saya bisa hidup bermanfaat. Semoga niat saya lurus, agar bisa lebih amanah menjadi seorang ibu khususnya dan sebagai bagian dari masyarakat pada umumnya. Tidak lebih dan tidak bukan, semoga hanya ridho Allah yang diharapkan.

Hidup bermanfaat tak perlu menunggu esok. Telusuri  potensi yang ada hari ini.  Bermanfaat mulai hari ini, paling tidak untuk diri dan keluarga.

Wise Mom

Tulisan ini niat nulisnya dah lama, tapi karena kepotong episode gubraaggs, jadi baru sekarang deh.

Episode wise mom, ini saya dapet ketika pertemuan orangtua menjelang UAS semester I. Hiii UAS, istilahnya ya…istilah zaman kita kuliah. Jadi pas dikumpulin tuh berasa sayanya yang mau ujian. Apalagi dipresentasikan batas nilai minimum tiap pelajaran. Adanya remedial kalo gagal,halagh jadi inget zaman SMA sering ikut remedial, hampir tiap pelajaran, hiks. Sekarang membayangkan Akmal akan memasuki dunia yang penuh dengan “kekerasan” seperti itu. Duh, Hiperbola sekali ya ibu yang satu ini:)

Bener, nggak pernah kebayang sebelumnya akan mengalami acara-acara seperti ini, membicarakan ujian akhir anak kelas 1 SD seserius ini. Yang terbayang tadinya,kalo kelas 1 masih main-main aja, santai-santai gitu, nggak ada tuntutan-tuntutan. Gimana nggak stress kalo kompetensi yang diharapkan tinggi banget, kurikulum padet banget, tapi gurunya? belum bisa memformulasikan bagaimana mengantarkan kurikulum padat itu ke fun learning yang bisa mencapai kompetensi tinggi seperti yang diharapkan kurikulum.

Jadi yang kejadian adalah guru menyelenggarakan fun learning, anak seneng, Alhamdulillah, tapi tujuan kurikulum yang tinggi tidak tercapai di sekolah. Ujian tetep pake standar tinggi itu, so kita,orangtua mau gak mau ngupgrade kemampuan anak di rumah,kalo pengen nilai anaknya bagus. Nilai anak bagus motifnya juga sebenernya kalo saya bukan ke masalah prestasi akademik, tapi masalah perkembangan psikologis anak. Anak usia SD gini kan lagi tahap industri vs inferiority. Makin sering dia berhasil menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik, makin PD lah dia kelak, dan makin sering dia gagal, jadilah kelak dia pribadi inferior. Kepengennya sih kurikulumnya diturunin, tapi apa boleh buat dah terlanjut masuk ke sini. So, ngos-ngosan ngajarin anak dengan bahan UAS sebanyak itu. Sekitar 5 BAB, dengan anak kondisi awalnya blank. Mules euy, pengen fun learning juga jadi susah.

Nah di acara itu, seperti biasalah kita sebagai orangtua bertanya, konfirmasi atau komplen. Aura-aura kecemasan orangtua begitu nyata. Aura-aura ambisi orangtua juga nyata banget. Di detik-detik terakkhir pertemuan, seorang ibu mengangkat tangannya,mohon izin bicara. Ibu ini dari tadi belum ikut berdialog, baru kali ini beliau bicara.

Ibu ini bicara dengan terbata-bata, sepertinya banyak yang ingin dia ungkapkan, ia sedang mengatur kata yang pas. Ekspresi mukanya tegang, duh mau komplen apa nih?

Akhirnya keluar juga kata-kata beliau: “bapak, ibu terima kasih atas bimbingan bapak-ibu guru, anak saya kalo adzan terdengar langsung pergi ke mesjid, kebetulan mesjid depan rumah, dan yang membuat saya terharu kemarin dari pengeras suara mesjid terdengar suara anak saya yang sedang berdo’a. Saya terharu sekali. Jadi saya sangat berterimakasih, terlepas dari permasalahan akademik yang dialami. Sekali lagi terima kasih”

Nyes, seperti ada tetesan embun di hati ini, bayangkan saja selama dua jam pertemuan, tidak ada satupun pernyataan positif dari orangtua, apalagi berterima kasih pada guru. Yang lebih nyes lagi, saya tahu banget bagaimana kondisi akademis putra ibu tersebut. Banyak nilainya yang masih jauh dari bagus. Nilai 7 yang saya suka anggap sebagai nilai perbatasan,oleh ibu ini dinilai bagus, dan nilai di bawah 5, seperti tidak terlalu dicemaskan. Dia maklum karena dia merasa sebagai ibu bekerja tidak sempat mengajari anaknya di rumah (kok nggak komplen ya, harusnya kan tidak begitu, harusnya kan anak bisa dapat banyak dari sekolah).

Wah kalo saya jadi ibu ini, saya dah komplen habis-habisan, tappiiii ibu ini malah berterima kasih. Ibu ini malah fokus pada hal yang positif, yang sudah dicapai. Hua…jadi terharu, jadi teringat bahwa banyak hal yang positif yang sudah Akmal capai juga. Sama seperti putra Ibu tersebut, kalo tiap adzan Akmal selalu ke mesjid bersama adiknya, berdua saja karena kebetulan mesjid depan rumah. Sholat dengan khusyu dengan membaca bacaan sholat dengan tenang. Hmmmm, kenapa saya tidak fokus ke sini. Panik…panik dan panik terus dengan urusan akademiknya. Padahal tujuan saya memasukkan anak ke SDIT awalnya juga hanya ini: pengkondisian. Memasukkan anak ke lingkungan yang mengkondisikan dia selalu teringat pada Allah SWT.

Wise Mom, benar-benar deh, salut,dan kapan saya bisa seperti ini?

Gubraggss!

Duh gubrags banget nih bulan ini, bulan dengan berbagai ujian. Anak-anak aja ada ujian akhir semester ya, apalagi kita yang udah deket-deket akhir kehidupan…

Ujian pertama: Komputer Ngehang + speedy mati
Sepele, terkesan ecek-ecek tapi ngenganggu banget soalnya komputer saat ini menjadi benda kesayangan. Karena dengannya aku bisa nulis, cari info, cari ilmu,cari teman dan tentu saja cari duit.He3! Kerusakannya jadi bikin aku BT banget. Eh udah gitu jejak kerusakannya diikuti oleh speedy, dah lengkap banget deh rasanya.

Hmmmh, dalam setiap ujian pasti ada pelajaran. Merenung…merenung, ya, akhir-akhir ini aku merasa sudah naik status jadi “addict” dengan yang namanya OL alias online. Ada waktu senggang langsung OL, chatting berlama-lama, browsing, ah sagala rupa sampai melebihi kuota waktu yang ditetapkan. Saking santainya OL, banyak yang terheran-heran, kok bisa OL berlama-lama. Akhirnya mungkin banyak yang terbengkalai, urusan anak, suami dan diri. Sadar…sadar…mohon diampuni atas segala kesalahan.

Menata diri lagi, menata waktu, membaca buku, eh kok jadi nikmat:) Setelah semua terasa nyaman kembali, mulai deh merajuk kepada misua tercinta untuk memperbaiki komputer, sedangkan masalah speedy aku selesaikan sendiri dengan mengontak 147. Urusan speedy langsung beres, petugas telkom langsung datang dan memperbaikinya. Tinggal misua nih, yang kurang semangat mengoprek-oprek, yah diriku pasrah sajalah. Sempet tergoda untuk membeli laptop baru saja, tapi ngitung-ngitung manfaat dan dalamnya dompet yang harus kugali…ah tidak deh karena prediksiku komputer masih bisa diperbaiki dengan budget yang jauuuh banget dari beli baru, kebutuhanku juga masih dipenuhi dengan komputer lawas ini, hik.

Sambil menikmati rutinitas yang lain. Setelah beberapa weekend terlewati begitu saja (padahal ngarep-ngarep kalo weekend beliau membereskan urusan komputer ini), akhirnya dia menemukan penyebabnya (dengan cepat) setelah ada keinginan mengoprek dengan serius. Pffh kenapa juga mesti menunda-nunda…ah sudah…sudah…maklum saja:)

Akhirnya komputerpun sudah prima kembali, dan ternyata untuk memulai kembali aktivitasku seperti semula perlu energi besar sekali, ditambah lagi alasannya karena ujian lain di bulan ini:(

Ujian kedua: asisten menyita pikiran
Asisten adalah sebutanku untuk pihak yang membantuku dalam urusan teknis rumah tangga. Setelah mengalami berbagai kesulitan ketika memiliki asisten yang menginap. Saya coba asisten yang pulang pergi. Usianya sudah cukup senior, sudah punya cucu. Sempet ragu-ragu di awal karena biasanya kalo sudah berkeluarga begitu, bermasalah di masalah finansial, dan buntutnya suka cash bon, tapi ya sudahlah coba saja dulu.

Awalnya jobdesknya hanya setrika saja, tapi karena ternyata diriku ngos-ngosan beberes dan mencuci (mungkin karena baru pindah), akhirnya kutawari penambahan jobdesk dan tentu saja penambahan salary. Jobdesknya jadi full, beres-beres, cuci,setrika. Dilakukan dari pagi sampai selesai, kalo dah selesai dia bisa langsung pulang. Awalnya dia santai, lama-lama dia terkesan buru-buru bayangkan dengan jobdesk demikian dia bisa selesaikan dalam 2 jam saja, gak ada ngelap-ngelap, atau nata2 apa. Ya akhirnya saya maklum sajalah, tapi dasar penyakit yang punya asisten, untuk turun ke lapangan rasanya males sekali. Jadi ada pikiran kalo dah bayar orang ngapain diriku susah. Akibatnya rumah lebih terlihat sering berantakannya daripada rapinya.

Tetangga-tetanggaku yang cukup perhatian pernah mengungkapkan keheranannya, kenapa saya mau-maunya gaji orang yang pekerjaannya, berdasarkan pengamatan para tetangga kurang kualified. Tapi saya pikir punya asisten cuman buat back up,jaga-jaga kalo aku sakit, atau anak-anak sakit, secara saya di depok pendatang, kalo ada apa-apa mau minta tolong ke siapa.

Tapi ternyata asistenku kali ini terlalu memanfaatkan “kebaikanku’, lama-lama dia minta kesabaran lebih, mulai sering nggak datang,ada saja alasannya. Awalnya saya maklum, karena alasannya reasonable. Di sisi lain karena dia sering tidak datang, sayapun jadi sering turun lapangan. Ternyata kok rumah lebih kinclong ditangani sendiri dan ternyata kok tidak terlalu cape, masih sempet Ol, masih sempet nemenin anak, masih sempet packing-packing pesanan.

Sampai akhirnya masalah bertambah karena kebiasaannya cash bon jadi intensif, dan puncaknya adalah ketika di permintaannya yang terakhir ini, jumlahnya cukup besar bagi saya. Dengan kualitas kerja yang demikian dan dengan permintaan pinjaman uang yang demikian besar, saya jadi berpikir untuk memberhentikannya. Tapi bingung mau rasanya kok tidak manusiawi,lagi susah gini masa menghilangkan pekerjaan oranglain. Konsul dulu deh ke teman-teman yang saya anggap paham Islam dengan bagus, ya ikhtiar aja. Dari masukan yang ada ya apa boleh buat dengan pertimbangan-pertimbangan yang ada akhitnya diputuskanlah untuk memberhentikan asisten ini, dengan disertai pemberian gaji dan pemberian bantuan, karena nggak tega aja. Alhamdulillah, ternyata reaksinya biasa-biasa aja, nggak ada wajah kaget,shock, atau sedih. Mungkin kata bapakku dia juga dah pengen berhenti kerja. Iya juga ya, duh ngapain atuh aku kemaren pusing-pusing, secara dia juga mungkin nggak betah. Ya, dia suka cerita kalo pengen kerja di tempat yang gajinya lebih tinggi dan bisa dapet pinjaman uang. He3 dia nyesel kali ya punya majikan kere. Padahal salarynya dah di atas standar para tetanggaku, kerja juga cuman dua jam, yah namanya manusia ya.

Alhamdulilllah nikmat juga ternyata mengurus pekerjaan rumah tangga ini, apalagi disertai ilmu yang cukup setelah membaca salah satu buku Yusuf Qurdowi tentang tugas-tugas istri dan ibu. Ya selama hati ikhlas, ternyata tugas-tugas ini bisa dikerjakan dengan santai saja tanpa beban dan tanpa stress. Apalagi ditambah suami sangat membantu. Duh, Ayah dirimu tambah mature saja. Di saat gubrakan ketiga terjadi, dirimu benar-benar luar biasa. I L.v. y.o lah… (sensor ah)

Ujian ketiga, Hanif Masuk Rumah Sakit
Ketika saya memutuskan untuk memberhentikan asisten,sebenarnya Hanif dan saya sudah ada gejala akan sakit. Suhu badan Hanif meningkat, dan saya merasa pusing dan tidak enak badan. Dua hari panas tinggi. Tapi bismillah saja, karena meneruskan assisten ini rasanya sudah tidak memungkinkan.

Seperti biasa awalnya aku hanya memberi madu + habbatussauda. Biasanya kalo flu-flu biasa ditangani dengan cara begitu, hanif dah bisa sembuh. Tapi kali ini Hanif tampak kesusahan sekali,lemes, tak semangat. Wah feeling niy bukan sakit biasa. Karena panas banget sampe 39 dan hanif dah mulai ngigau, saya beri parasetamol, besoknya suhu badan dah ok. Dah lega, berarti panasnya cuman 1 1/2 hari. Tapi kok hanif tetep lesu dan sakit di bagian perut, jangan-jangan tipes, tapi malamnya suhu normal, cuman hanif seperti gelisah.

Subuhnya, hanif muntah-muntah semua yang masuk dikeluarkan lagi. Karena muntah terus-terusan kita memutuskan untuk membawanya ke UGD. Masalahnya UGD mana ya? Karena kita baru pindah ke sini, mau ke Hermina, rasanya terlalu jauh, apalagi kondisi Hanif yang muntah-muntah. Ada feeling, Hanif akan diminta di rawat, soalnya ada tetangga juga muntah-muntah lagi dirawat. Mempertimbangkan berbagai kondisi, termasuk tidak adanya asisten, yang otomatis harus dekat dari rumah biar kalo mondar mandir RS – rumah mudah, kami pilih RS Swasta X terdekat. Di UGD kami dilayani dengan baik,walau terkesan lambat, tapi nggak terlalu masalah. Benar feeling saya, hanif diminta rawat inap. Walau hanif tidak panas, ada indikasi dehidrasi, saya nurut saja daripada ambil resiko. Sayangnya waktu itu karena saya juga sakit, nggak bisa terlalu konsentrasi, hanya pilih kelas saja, lalu selanjutnya suami yang urus, tidak terpikir untuk pindah rumah sakit, untuk pilih dokterpun tidak terpikir. Bener-bener kondisi saya sedang tidak fit, low bat.

Proses pasang infus, tenyata berjalan mulus, Hanif nggak nangis sama sekali, luar biasa anak ini. Mature…Karena proses pasang infus nggak masalah, saya dah sreg aja deh sama RS ini.

Lagi mikir-mikir gitu, lagi sendirian saja nunggu hanif, saya disuruh ke lab, ngurus pemeriksaan darah hanif, saya heran, bukannya dah ngasih jaminan ke rumah sakit dengan jumlah yang tidak sedikit, biasanya semua dah All in, jadi kita bisa konsentrasi ke anak. Sempet bertanya, tapi diyakinkan suster, kalo saya harus urus dulu. Sampe lab, saya baru nyadar nggak bawa uang sepeserpun, ya, saya berangkat buru-buru, dan terbiasa dengan sistem asuransi yang bikin nggak kepikir mesti bawa uang ke rumah sakit. Tanya lagi deh, apa nggak termasuk uang yang dah saya simpen di rumah sakit,dijawab tidak, haduh, bingung…mana suami dah pulang…mana hanif ditinggal di UGD sendirian. Telp suami minta balik lagi…suami yakin kalo dah include uang jaminan, akhirnya saya tanya kasir. Ternyata kata kasir, ya bu, dah include. Haaaa rasanya pengen….dezig…dezig. Segera deh ke lab, nunjukkin kwitansi yang dah dicap kasir. “Oh, bisa ya bu” Heuuh, saya cepet-cepet balik ke UGD, pffh syukurlah Hanif, dia anak yang sabar, nggak ngeluh ditinggal ibunya.

Lammma sekali menunggu ruang disiapkan, membandingkan dengan kesigapan suster di Hermina waktu Hanif rawat inap di sana, jauhlah, tapi lagi-lagi saya tidak mempermasalahkan, mungkin karena saking ruwetnya saya memikirkan manajemen rumah tangga kala kondisinya seperti ini, plus badan yang makin berat aja terasa tidak enaknya, membuat saya pasrah.

Akhirnya kamar siap, dan Hanif saya gendong dengan memegang infusannya, dan dengan atribut bawaan ke rumah sakit seadanya tapi lumayan ribet, dibantu seorang perawat pria. Lumayan cape…sampe ruang rawat saya surprise karena suasananya berbeda banget dengan Hermina, lebih rame, terlihat banyak orang berbaju putih, yang akhirnya saya tahu mereka dokter coas. Saya baru tahu kalo di RS Swasta ada dokter koas seperti ini. Terus terang rada trauma dengan dokter coas. Pernah punya pengalaman buruk waktu Akmal DB di bandung, di rumah sakit negeri di sana, ditangani oleh sekelompok dokter coas, pasien bagaikan kelinci percobaan. Berusaha mendelete pengalaman buruk itu. Kondisi Hanif membaik, secara sudah tidak dehidrasi. Berharap bisa cepet pulang.

Ternyata menjelang malam, Hanif susah makan, suhu badannya naik. Orang yang masuk ke ruang rawat berganti-ganti, bukan hanya suster, tapi juga dokter coas. Jadwal pemberian obat panas yang terakhir jam berapa, selalu ditanyakan kepada saya. Saya cukup heran, bukannya mereka yang harusnya tahu, kan ada catatannya. Saya mulai stress dan panik, ganjil dengan pelayanan di RS ini. Pemberian sanmol bisa 3 jam sekali, tanpa selang-seling dengan obat penurun panas lainnya. Saya awam tentang kesehatan tapi tidak lugu dan awam banget, tapi hal ini malah bikin saya was-was. Urine diambil, tanpa kita tahu itu keputusan siapa. Pengalaman menemani anak di RS Hermina dan Bunda, membuat layanan RS ini terasa ganjil sekali, kalo di Hermina atau Bunda, semua decison tindakan kita tahu itu adalah keputusan dokter, hasil konsultasi by phone.

Sempet terpikir untuk pindah rumah sakit, tapi akhirnya saya putuskan untuk menunggu visit dokter yang ternyata tak datang-datang. Ternyata di rumah sakit ini, visit hanya satu, dokter spesialis, tidak ada visit dokter jaga. Hal ini bikin kesel juga, soalnya panas hanif belum ada perbaikan. Menjelang sore, Alhamdulillah panas hanif saya amati ada kecenderungan turun, tapi entah kenapa suster terus saja menjejali obat penurun panas, padahal suhu sudah 37,5.

Dokter datang jam 8 malam,sungguh penantian yang panjang kao anak lagi panas begini. Nggak kebayang kalo misalnya sakit penyakit yang dah jelas membahayakan jiwa, duh jangan dirawat di sini deh. Dokter datang dengan didampingi sekelompok dokter coas. Pemandangan seperti ini pernah bikin Hanif nangis, waktu pemeriksaan pertama di rawat inap. Hanif yang biasanya nggak rewel kalo diperiksa dokter, kaget melihat dokter datang kaya pasukan perang, apalagi ditambah Hanif dipaksa dibaringkan untuk diperiksa, pemeriksaan tampak terburu-buru, tidak ada komunikasi. Di pemeriksaan kedua ini Hanif sudah kami siapkan, ia sudah tenang,walau dokter datang berkelompok, dokter memeriksa dan dokter tidak bilang apa-apa, kecuali kita tanya. Setelah kita tanya barulah kita tahu kalo dari urine ada infeksi, berarti infeksi kemih, Hanif boleh pulang setelah kondisi suhu badan stabil

Karena kurus dengan BB jauh dibawah normal, dokter menduga kuat Hanif kena TB, dan ia minta Hanif di test mantoux sebelum pulang, saya mengiyakan saja, walau sebenarnya dalam hati keberatan kalo Hanif di screening dalam kondisi kurang fit di sini, dalam pikiran saya yang awam, takutnya hasilnya nggak valid.

Alhamdulillah Hanif pulang. O,ya hikmahnya dari episode Hanif masuk rumah sakit, plus sakitnya saya, plus tidak adanya asistem adalah Ayah menjadi sangat matang, dan mandiri. Ayah jadi bisa mencuci, menstrika dan menanak nasi. Tidak mengeluh dengan pekerjaan rumah tanggga, dan sangat Helpfull….wuiii layak dapat Award: Suami dan Ayah teladan lah pokoknya, Alhamdulillah kami bisa melewati ini semua tanpa asisten dan tanpa merepotkan keluarga terdekat.

Gubrakan keempat: Berikhtiar Mencari Diagnosis yang Tepat.
Tiga hari setelah test mantoux, saya dan hanif kembali datang ke dokter SpA X ini. Saya tenang saja karena Hanif dah dua kali test mantoux dengan hasil negatif, karena tak ada bentolan atau kemerahan di lengannya, dan kali inipun demikian. Tapi ternyata dokter ini punya cara membaca mantoux yang berbeda. Ia arsir lengan hanif di buletan bekas mantoux, dengan menggunakan ballpoint dan menekan lengan hanif. Hanif kesakitan, tapi saya nggak bisa menolak, sambil mikir, ni dokter lagi apa. Setelah selesai mengarsir, dokter bilang, ini positif bu. Wah, saya langsung bengong. Ooo, selanjutnya dokter mengatakan,untuk mengambil foto paru dan test darah. Saya hanya mengiyakan, tapi lalu saya teringat kalo saya mungkin tidak membawa cukup uang,dan juga tidak membawa kartu debet dan bertanya apa bisa rotgen dan test darah hari sabtu saja. Dokter bilang ok, gak masalah, sambil bilang “nanti sabtu kartunya bawa ya bu (maksudnya kartu asuransi,padahal mah saya nggak pake kartu), soalnya saya mau kasih obat yang bagus, yang mahal, sambil menunjukkan sebuah
brosur, nanti saya jelaskan, begitu katanya. Saya mulai termangu: mahal? Walaupun pengobatan ini diganti oleh kantor, tapi saya nggak mau kalo obat asal mahal, semua harus reasonable.

Sampe rumah, setelah ada waktu saya browsing tentang TB, dan pengetahuan pun bertambah, ternyata saking sulitnya diagnosa TB, banyak yang diagnosanya salah. So, ambil diagnosa TB harus hati-hati, nggak bisa sembarangan. Kontak ke sepupu yang berprofesi dokter, dan menurutnya cara memeriksa mantoux seperti SpA tadi adalah hasil modifikasi beliau saja, dan bisa jadi hasilnya mis, disarankan second opinion. Akhirnya hati mantap untuk second opinion, tapi kemana. Alhamdulillah silaturahmi dengan para tetangga dipermudah dengan adanya milist, dan dari sana ternyata saya dapet info kalo dokter yang saya percayai, dr.Alan Tumbelaka,SpA, ternyata rumahnya dan buka praktek di klinik tidak jauh dari rumah saya. Hanya jadwal prakteknya yang pas dengan saya saat ini adalah jadwal praktek di Hermina, ya sudah nggak apa-apa, kami pun menuju ke sana.

Sampai di Hermina, penanganan suster memang terasa berbeda ya, sigap dan profesional. Hal yang sepele juga seperti timbangan pengaruhnya signifikan juga, ternyata hasilnya selisih satu kilo lebih banyak dibanding di RS swasta X itu, untuk anak yang bermasalah berat badannya hasil beda sekilo lebih banyak tentu saja sangat menyenangkan.

Masuk ke ruang periksa dr Alan. Setelah mendengarkan maksud kami, dokter menyatakan bahwa cara periksa seperti yang dilakukan SpA X, adalah salah, tidak benar. Glek. Andai….Hanif meneruskan pemeriksaan di sana. Lalu foto rontgen pun dinyatakan paru-parunya baik-baik saja. LEDnya tinggi, tapi kalo LED tidak bisa menyatakan ada TB. Kesimpulan sementara Hanif bukan TB. Duuuh kok bisa beda? Hanya ada benjolan pembengkakan kelenjar di leher sebelah kanan, kenapa bisa bengkak? Nah untuk jaga-jaga supaya diagnosa tidak meleset, dokter memutuskan untuk melengkapi data kami dan akan mendiskusikan data tersebut ke rekan-rekan dokter di RSCM. Pffh lega deh, bertemu dengan dokter yang hati-hati dalam mendiagnosa. Karena TB memang bukan hanya penyakitnya yang tidak sepele, pengobatannya pun demikian, perlu jangka waktu lama. Apapun hasilnya kalo sudah dengan prosedur yang lebih hati-hati, Insyaa Allah hati ini lebih mantap, mudah-mudahan hasil terbaik yang kami peroleh.

Begitu deh ujian-ujian di bulan ini, bikin gubraggs banget, tapi mudah-mudahan bisa kita dilewati dengan baik.